Saturday, February 27, 2010

Dalam Dekapan Ukhuwwah

 Bakal menemui anda..Mac 2010

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji.. Dalam dekapan ukhuwah.

Prolog: Dua Telaga

Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawanya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh akhlaq, matanya berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”
Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

***

Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di air telaga. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.

Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki.

Maka di tepi telaga itu dia selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebut kembang itu, narcissus.

Selesai.

Tetapi Paulo Coelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.
“Mengapa kau menangis?”, tanya para peri.
Telaga itu berkaca-kaca. “Aku menangisi Narcissus”, katanya.
“Oh, tak heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”
”Oh, indahkah Narcissus?”
Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu?”, kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”
Sejenak hening menyergap mereka. “Aku menangisi Narcissus”, kata telaga kemudian, “Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”

***

Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.

Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesama, seperti apa yang kita tabur pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.

Tetapi ‘Amr ibn Al ‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surga pun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. ‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Khalid ibn Al Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rasul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rasulallah”, dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”
Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah”, katanya.
“Maksudku”, kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”
“Ayah ‘Aisyah.” Rasulullah terus saja tersenyum padanya.
“Lalu siapa lagi?”
“’Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.
“Setelah itu”, kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan tanyaku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

***

Di buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin
kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Sang Nabi ini yang akan menjadi telisik pembelajaran kita. Inilah pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran.

Tak ayal, kita harus memulainya dari satu kata. Iman. Karena ada tertulis, yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terrendah dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

Dalam dekapan ukhuwah kita mendaki menuju puncak segala hubungan, yakni taqwa. Sebab, firmanNya tentang penciptaan insan yang berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan. Dan ada tertulis, para kekasih di akhirat kelak akan menjadi seteru satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.

***

Ah, tapi jika semua tadi masih terasa sulit dan melangit, mari kita sederhanakan Dalam Dekapan Ukhuwah ini dengan sabda Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang menghimbau kita untuk bercermin. Seperti Narcissus. Tapi bukan di telaga. Dan pemaknaannya pun jadi berbeda.
“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Itu saja.
Selamat datang dalam dekapan ukhuwah. Aku mencintai kalian karena Allah.

sumber: facebook Salim A. Fillah

[munir] nak pesan adik2 R2J4 belikan..tp  x keluar lagi

Ayuh bercita-cita




Pernah suatu ketika,
ketika kami beraktiviti,
seorang akh tampil ke depan.

Secara zahirnya,
mungkin ramai menganggap beliau tidak cocok dengan apa yang beliau katakan,
pandangan manusia tetaplah pandangan manusia.

Beliau tampil di hadapan kami,
penuh lembut dan sopan.
Teratur dan beradab.

Beliau mula melontarkan kata-kata...
Saat beliau menyatakan cita-citanya..
Menjadi seorang ’international speaker’.
Diri yang penuh ego ini seolah-olah menafikannya.
Dalam benak ’terlalu tinggi citanya..susah untuk diraih’
Tidak yakin beliau mampu mencapainya.

Masa terus berlalu..
Beberapa hari kami beraktiviti di negeri seberang,
beliau sentiasa tampil dihadapan kami,
memberi semangat dan motivasi,
meluruskan niat dalam beramal,
meraih redho Allah..

Masa terus berlalu..
Sampai saat kami ingin pulang ke negara asal kami,
beliau sekali lagi menampilkan diri seperti biasa.
Dengan penuh rendah hati,
beliau melontarkan kata-kata yang membunuh ego diri ini.
Membekas dalam hati yang penuh noda.

Ikhwah fillah. Tentu antum masih ingat perihal cita-cita
yang pertama sekali ana bicarakan sama antum pada
hari pertama ketibaan antum di sini.

Memang Allah itu amat berkuasa dan mengasihi hambaNya.
Rahmat dan nikmat yang Dia berikan tidak terhingga kepada
kita semua sampai kita tidak mampu menafikannya.

Selayaknya kita mempunyai cita-cita. Apatah lagi sebagai
seorang muslim. Tentu kamu ingat manusia kerdil ini yang tidak
mempunyai apa-apa pernah menyatakan cita-citanya untuk
menjadi seorang ’international speaker’.
Memang benar, cita-cita itu tinggi. 
Ana sendiri pada mulanya
tidak pasti bila Allah akan menjadikanya realiti.
Tapi, Alhamdulillah, hari ini Allah mengurniakan nikmat untuk bertemu antum
dari negara seberang yang ana hormati. Kerana kehadiran antum, Allah telah
membenarkan cita-cita ana.

Ana menjadi semakin yakin bahawa setinggi manapun cita kita, insyaAllah
akan tercapai dengan keyakinan kepada Allah.

Kerana cita-cita ana telah menjadi dengan kehadiran antum.
Menjadi seorang ’international speaker. Ana dari Indonesia bercakap
dengan antum, khalayak dari Malaysia..

Bukankah mempunyai cita itu HEBAT!

Qalam Qolbu
Detik-detik menggugah…R2J3
2009

Thursday, February 25, 2010

Kerana tulisan ini untuk kita..

Kita..
 
Memang indah kalau kita mempunyai cita-cita.
Kita semua punya cita, mereka juga punya cita.
Si anak dalam filem Laskar Pelangi juga punya cita.
Tanya mereka yang di sekeliling kita, apa cita mereka.
Ada yang ingin membina bangunan pencakar langit tertinggi dunia.
Ada yang ingin membangun sebuah perusahaan mega bernilai trilion dolar.
Ada yang ingin menjadi tokoh pujaan ramai.
Ada yang ingin menginja-inja di atas pentas di hadapan lautan manusia.
Ada juga mereka yang ingin mendapat kelulusan akademik yang terbaik dunia.
Ada juga mereka yang ingin....itulah cita. Banyak yang tidak terkata.
Ada yang dilihat mustahil dan ada juga yang dilihat 'mungkin'.
Ada juga yang dilihat mustahil tetapi menjadi benar akhirnya..
Dan begitu juga sebaliknya. Kerana cita itu abstrak..
Terserah bagaimana kita memberi definisi..
 
Kerana cita itu lumrah semulajadi...apa pula beza cita kita dengan mereka?
 
Mereka membina..kita membina
Mereka belajar..kita belajar
Mereka beraktiviti..kita beraktiviti
Apa beza kita dan mereka?
 
Kadangkala kita mendengar slogan..'Jangan Banyak Cita!!"..
 
Bukankah itu slogan memanggil kematian?
Bagaimana mungkin kita hendak menjayakan sesuatu tanpa bermimpi?
 
Kita..
 
Rasulullah juga penuh dengan cita..
Masihkah ingat saat ketika kaum muslimin memerah keringat dalam perang Ahzab?
Sebuah batu besar menjadi halangan mereka untuk meneruskan kerja..
Maka nabi yang mulia itu datang..dengan tangannya...memukul dengan izinNya
Tiga pukulan sudah memadai untuk memancarkan cita.
 
Cuba lihat dan perhatikan cita baginda!
 
Kisra, Rom dan Shan'aak..bakal dibebaskan..
Bukankah itu satu cita yang dilihat mustahil!
Kuasa besar dunia dikalahkan oleh sebuah bandar yang kecil!
Ternyata cita itu menjadi benar...
Kerana mereka telah menang di alam cita sebelum bertarung di alam nyata..
Bukankah hebat mempunyai cita?
 
dan kita...
 
Apakah cita kita?
...adakah sekadar 10-20 mendatang?...
...adakah sekadar cita dalam pengajian dan kerjaya?...
ternyata perjalanan kita sangat bernilai dari sekadar bercita pendek..
 
Maka akhi...
Bercita-citalah!
The Web, TC
25/2/10
6:06pm
 
"Kemenangan Adalah Kepastian, Maka Berdoalah Agar Tergolong Pahlawan Kemenangan"
 


New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!

Tuesday, February 16, 2010

Wednesday, February 10, 2010

TASK FORCE "JOM CEGAH ZINA"

JOM JOM JOM~~

KELAB BELIA JIM (KBJ)
KELAB RAKAN SISWA ISLAH MALAYSIA (KARISMA)
KELAB REMAJA JIM (KRJ)

akan berganding bahu menggerakkan. ..

TASK FORCE
"JOM CEGAH ZINA"

Suatu usaha amar makruf nahi mungkar bersama
Jabatan Agama Islam Wilayah Persekutuan (JAWI)

Tarikh: 14 Februari 2010 (Ahad)
Tempat berkumpul: Kuala Lumpur (akan dimaklumkan kemudian)
Masa berkumpul: 4.00 petang

Kita perlukan sekurang-kurangnya 100 sukarelawan! !

Jika berminat untuk terlibat, hantarkan nama penuh, umur, no. telefon dan alamat email ke
abu_itqan@yahoo. com atau hafizbai@gmail. com

Terima kasih.


Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com.

Tuesday, February 9, 2010

Dengan Petunjuk dan Kejayaan

Pertama sekali menginjak kai di alam kampus, ada antara mereka yang pertama sekali menyambut. Mereka hadir di saat jiwa kabur, keliru dan meraba-raba. Ya Allah, berkatilah perjalanan mereka dalam menuntut ilmu mu yang maha luas. Siramilah hidup mereka dengan rahmat dan kasih sayangMu yang tiada pernah akan putus.

Buat mereka yang telah terbang~

Thursday, February 4, 2010

Untukmu Murobbi


“ Seorang murabbi itu adalah orang tua bagi mutarabbinya dalam aspek keprihatinan dan soal kebajikan. Murabbi adalah syaikh bagi mutarabbinya dalam aspek memperbaiki kualiti ruhi agar dapat menjadi sumber inspirasi. Seorang murabbi adalah ustaz dalam aspek penyampaian ilmu kepada mutarabbinya. Seorang murabbi juga adalah seorang pemimpin dalam mengarahkan dan memimpin mutarabbinya ke jalan Allah..”

“Di jalan para pejuang, tidak boleh kita hanya menerima tanpa memberi. Komitmen kita ialah memberi buah terbaik kepada masyarakat tanpa mengharap ganjaran yang besar. Selama mana matahari masih bersinar, selagi itu kontribusi kita berterusan..”

Pondok Pesantren al-Hikmah (PPAH). Sekolah sederhana ini terletak di wilayah Gunug Kidul, Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sekolah yang memberikan pendidikan gratis (percuma) dan majoriti santri (pelajar pondok) datang daripada keluarga yang berpendapatan sederhana ke bawah. Ramai juga santri yang berasal daripada keluarga miskin yang kais pagi makn pagi dan kais petang makan petang. Jika melihat insfrastruktur tidaklah teruk sangat malah ada kelengkapan yang tiada di sekolah aku dulu namun masih ada kekurangan seperti sistem pengairan yang tidak tetap kerana sumber air mereka ialah sumur (perigi). Inilah hasil sumbangan masyarakat yang prihatin terhadap pendidikan anak-anak yang bakal mewarisi kepimpinan masa depan.

Hari itu merupakan hari kedua aku menikmati udara Gunung Kidul yang segar. Nikmat sebegini jarang dirasai di Malaysia melainkan di kawasan perkampungan yang tidak dinodai oleh urbanisasi yang tidak terancang. Begitulah nikmat semulajadi yang Allah kurniakan untuk hambaNya. Pilihan terletak di tangan manusia untuk menguruskannya dengan hikmah.

Pagi itu, aktiviti kami ialah memindahkan kayu api ke tempat memasak. Kayu api tersebut digunakan oleh para santri untuk memasak. Memang sudah menjadi lumrah di PPAH para santri (pelajar) perlu memasak sendiri makanan mereka. Bagi ikhwan, mereka ditugaskan untuk memasak nasi untuk seluruh pesantren yang memakan masa lebih kurang lima hingga enam jam. Mereka bermula selepas Zohor dan kebiasaannya selesai memasak pada waktu maghrib. Sukar untuk membayangkan sekiranya rutin harian sebegitu tetapi inilah hakikatnya. Bagi akhawat pula, mereka ditugaskan untuk memasuk sayur. Lauk daging, ayam atau ikan pula tidak ditugaskan kepada sesiapapun kerana mereka memang tidak mempunyai hidangan tersebut dalam menu mereka. 

Kami selama di sini memang makan pagi dan malam. Makanan yang ada cuma nasi dan sayur sahaja…,” beritahu seorang santri kepadaku.

Ya Allah, selama ini nikmat yang kau berikan padaku sungguh melebihi dari yang cukup, namun aku sering lupa padaMu yang menurunkan rezeki itu padaku..ampunilah aku Ya Allah..

Hujan mula turun dengan lebat, kami tetap meneruskan aktiviti memindahkan kayu ke tempat memasak yang terletak dalam jarak 30 meter dari tempat kayu api dilonggokkan. Aku melihat para santri begitu semangat memindahkan kayu api tanpa menghiraukan hujan lebat yang turun. Mereka bergantung penuh dengan kayu api tersebut hanya untuk mengisi perut mereka agar mereka mendapat tenaga yang mencukupi untuk belajar dan meneruskan kehidupan. Hidup bersama mereka selama tiga hari membuatku mendefinisi semula makna syukur dalam diriku.

Sedang diri sibuk memindahkan kayu api, akhi Anas Sazali, teman ketika sekolah rendah dahulu, berjumpa denganku. Beliau diberi amanah sebagai ahli jawatankuasa program sepanjang minggu pertama kami di bumi Jawa. Beliau memaklumkan kepadaku bahawa pada sore (petang) hari tersebut, ustaz Ngatni, guru kelab bahasa inggeris PPAH meminta bantuan dua orang ikhwah untuk mengendalikan kegiatan kelab tersebut pada sebelah petang. Aku dan Anas Azlan ditugaskan untuk perkara tersebut. Kami diminta untuk mengajar topic ‘expression’. Expression? Apa yang nak diajar…mungkin kami pernah belajar topik tersebut tetapi terlupa nama topik itu. Untuk mengelakkan salah faham, ana pun pergi bertemu dengan ustaz untuk meminta panduan mengajar. Maklumlah, kali pertama diberi kepercayaan mengajar. Satu perkara yang merisaukan lagi ialah ahli kelab tersebut hampir kesemuanya sebaya dengan aku dan mereka bakal mengambil Ujian Nasional atau singkatannya UN(bukan United Nation), Jika di Malaysia, UN boleh dikatakan sama dengan Sijil Pelajaran Malaysia (SPM). 

[macam mana nak ajar mereka?Kalau ajar kanak-kanak bolehla tapi mereka ini sebaya dan ada yang lebih tua…]

Waktu itu tiba juga. Selepas ‘asar, aku dan Anas bergegas ke blok kawasan MA (Madrosah ‘Aliyah). Aku terus menuju ke sebuah kelas yang mana ahli English Club diminta berkumpul di dalamnya.

Dalam kelas tersebut, beberapa santri sudah menunggu. Jumlah kesemuanya 13 orang. Baru ada empat orang. Dalam hati, rasa seolah-olah mereka tidak menghormati kami yang sudi bersama mereka. Namun perasaan tidak baik itu hilang apabila teringat pengorbanan dan perasaan guruku ketika zaman persekolahan dahulu. Nostalgia lama kembali. Mungkin inilah perasaan guru yang tidak pernah saya rasakan ketika saya sering masuk ke kelas lewat, Ya Allah, ampunilah guru-guruku yang telah mendidik aku. Ganjarilah kesabaran mereka dengan syurgaMu. Amiin.

Apabila semua sudah hadir, aku pun memulakan kelas.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh semua,” ucapku.
Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh,” balas mereka dengan penuh semangat.

How are you? I hope you will be fine and always in Allah’s dignity. InsyaAllah today, I will share with you some knowledge that was given by Allah to me and I hope we will enjoy our class this evening. Before that, it is a pleasure for me if we can start our session this evening with a little ta’aruf from all of us. Is it fine?” aku membuka bicara.

Kami mengambil keputusan untuk berkongsi pengetahuan secara tidak formal. Jadi sepanjang sesi tersebut kami banyak berbincang dan berbual. Alhamdulillah, sesi tersebut berjalan dengan lancar dan mereka memberikan respon yang baik. Aku tidak melihat tanda-tanda kebosanan dalm diri mereka.

Petang tersebut dilalui dengan penuh semangat walaupun yang berada di hadapan mereka hanyalah aku, seorang pelajar lepasan SPM dan sebaya dengan mereka. Mereka amat menghormati aku sebagai orang yang meyampaikan ilmu dan itu yang membuat aku rasa malu. Adakah aku telah melaksanakan hak guru-guruku? Teringat kisah Umar al-Khattab dengan seorang Yahudi yang mengajar beliau cara mengenalpasti jantina seekor anjing. Beliau berdiri apabila orang Yahudi tersebut lalu melintasi beliau. Begitu beliau menghormati sang guru. Bagaimana aku dengan guru-guruku yang bukan hanya mengajar malah mendidik dan membimbing aku mengenali deen Islam ini?

Aku terkesan dengan semangat mereka yang sentiasa membara untuk menjayakan hidup mereka. Walaupun kehidupan mereka serba kekurangan, tetapi semangat juang mereka untuk menuntut ilmu luar biasa. Itulah pelajaran penting yang aku pelajari daripada santri-santri PPAH. Aku beristighfar, betapa ujian kesenangan telah melemahkanku dan menjauhkan aku dariNya.

Ternyata pengalaman ini telah menegur aku betapa mulia kedudukan dan besarnya pengorbanan seorang guru. Pengalaman dua jam mengendalikan kelas tersebut bukannya mudah. Apatah lagi bagi guru-guruku yang telah menabur bakti meyemai benih kefahaman ke dalam jiwa-jiwa generasi masa depan selama puluhan tahun. Bukannya mudah. Jazakallhu khoiron jazaa’ kepada murobbi-murobbiku. Hanya Allah yang mampu membalas keringat peluh dan air mata dalam mendidik diriku yang baru hendak melangkah melihat dunia. Terima kasih guruku.

19 May 2009
[munir] dlm gmbr: santri yg hujung kiri sekali..tgh pegang buku ekonomi..

Wednesday, February 3, 2010

Titian Fitrah : Sambungan


1. Tujahan Nurani

Kami meyakini bahawa segala keberhasilan dan kejayaan di alam nyata berawal daripada kejayaan dan keberhasilan di alam keyakinan. Tidak mungkin seseorang itu mencapai kemenangan setelah berusah sehabis mungkin sekiranya dia tiak membayangkan serta meyakini bentuk dan hakikat kemenangan itu terlebih dahulu di dalam diri. Seperti seorang penakluk, mustahil untuk dia menakluk sebuah negara tanpa terlebih dahulu mengkaji serta mempunyai gambaran yang jelas mengenai geografi, budaya dan pemikiran manusia di negara yang bakal mereka takluk. Begitu juga dengan iman.

Bagaimana kita hendak menjelaskan kehebatan dan kebenaran iman kita sekiranya kita sendiri tidak dapat membenarkannya dalam benak fikiran kita. Memang benar kita sering berhadapan dengan perkara-perkara yang menentang keimanan kita. Lantas di situ letaknya satu keperluan, bukan lagi kehendak kepada satu tujahan yang mampu menembus nurani kita lalu membangkitkan iman yang tidur mengantuk. Mudah-mudahan pada akhirnya kita kembali kepada Rabb kita dalam keadaan yang diredhaiNya.

”Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), (iaitu) surga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Thaaha: 75-76)

Sepanjang penulisan dalam bahagian ini, kami berusaha untuk mengutip mutiara-mutiara mereka yang telah terbukti berjaya membangkitkan perasaan keimanan yang utuh dalam diri dan manusia-manusia di sekeliling mereka. InsyaAllah buku-buku tarbiyah ruhiyah (pendidikan spiritual), tazkiyatun nafs (penyucian diri) serta buku-buku yang menyentuh perihal pendidikan hati yang dapat mengantarkan kepada tujuan yang diidamkan akan kami belek, amati, mudahkan, cerna dan sampaikan kepada anda melalui tulisan-tulisan yang mudah difahami.

Semoga Allah terus memberi kita petunjuk dalam aktiviti kita seharian.
”Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". (Al-Baqarah: 120)

2. IQ (Intisari Quran)

Saudaraku, terangkan kepadaku kitab agamamu...

Saudaraku yang mulia, kami merasakan bahawa dalam detik-detik hidup anda, pernah ada ketikanya ketika anda ditanya mengenai perihal kitabmu iaitu al-Quranul Karim. Lalu, apakah jawapan yang anda berikan?

Saudaraku fillah, kami merasa pilu dan sedih melihat keadaan umat Islam kini yang semakin hari semakin jauh dari sumber yang memberi petunjuk. ”Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (Al-Baqarah : 2). Maka apakah yang akan jadi sekiranya seseorang itu tidak mengikut petunjuk yang diberikan ketika jauh berada di dalam hutan. Pasti sesat. Bayangkan pula jika ada seseorang yang mencipta satu alat elektronik yang begitu rumit dan memerlukan langkah-langkah tertentu untuk mengoperasikannya. Lalu, anda terus mengambil alat tersebut dan menekan punat-punat yang ada padanya dengan sesuka hati. Apakah yang akan terjadi?

Maka kehidupan kita yang jauh lebih rumit juga begitu. Kini kita berada dalam keadaan meraba-raba mencari jawapan kepada segala penyelesaian hidup baik ekonomi, sosial dan aspek-aspek lain dari kehidupan kita. Maka kami menyedari bahawa menjadi tanggungjawab kami untuk menjelaskan kepada anda, saudara kami dengan rasa kasih dan cinta akan hikmah, pelajaran dan petunjuk yang boleh kita cedok daripada Quran dan mencerna dalam kehidupan seharian.

”Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur'an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raf : 52)

Saudaraku yang dikasihi,

Al-Quran ini bukanlah tidak bermanfaat sama sekali sekiranya dibiarkan tersusun rapi dan bersih di almari kita dan hanya dibuka ketika bulan Ramadhan dan hari-hari tertentu sepanjang hidup kita. Kitab ini perlu dibelek, disemak, dibaca, diteliti dan difahami isi kandungannya barulah kita layak membuat pengakuan bahawa al-Quran ini adalah perlembagaan, panduan dan kitab kita! Al-Quran ini tidak berhak untuk sekadar mengisi ruang-ruang dalam majlis yang kebanyakan orang gelar dengan ’majlis agama’ atau ketika majlis-majlis membaca al-Quran seperti yang kebanyakan daripada masyarakat kita amalkan. Pemahaman seperti ini seolah-olah mengatakan bahawa kitab suci ini hanya mengambil kira aspek ’keagamaan’ sahaja sedangkan aspek kehidupan lain seperti belajar dan pergaulan tidak terkandung di dalamnya.

” Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl : 89)

Ayuh kita buka kembali quran kita yang telah sekian lama tertutup. Berusaha sedaya upayalah untuk mengisi setiap hari anda dengan membacanya. Biar mula dari sedikit, insyaAllah anda akan merasakan kemanisannya saat ayat-ayat Allah ini menari-nari di hati anda...hilanglah segala kegelisahan dan kerisauan.

”(iaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du : 28)

...dan kami akan menghulurkan tangan membantu...

3. Uswah

Kami merasakan satu kekurangan sekiranya kami hanya menyampaikan sekadar kata-kata melalui tulisan ini sekiranya tidak menyertakan satu contoh praktikal dan realsitik. Atas kesedaran inilah kami berusah untuk mengajak anda hidup bersama Rasulullah melalui sirahnya yang harum semerbak. Ya, mustahil untuk seorang yang mengaku muslim itu tidak mengenali Rasulullah yang merupakan uswah hasanah, qudwah sholihah dan figur yang sempurna bagi semua umat sepanjang zaman.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab : 21)

Cuba anda semak dan teliti sejarah tokoh-tokoh yang berpengaruh sepanjang sejarah kemanusiaan. Kami pasti bahawa anda tidak akan menumpai seorang tokoh pun yang sejarah hidupnya sejak kelahirannya sehingga akhir, kata-katanya dan gerak gerinya yang lengkap dan terperinci seperti Rasulullah. Segala aspek dalam hidup Rasulullah baik rumah tangga ataupun kehidupan seharian, semuanya tercatat dalam hadis-hadis dan kitab-kitab tinggalan ulama’. Ternyata Rasulullah merupakan satu-satunya tokoh peradaban yang berjaya dalam semua bidang. Baginda merupakan seorang Rasul, panglima perang, bapa, suami, ahli politik, ahli perniagaan dan lain-lain lagi. Terbukti bahawa Rasulullah merupakan seorang tokoh yang berjaya menyatukan agama dan dunia, ibadah dan kehidupan, tazkiyah (menyucikan jiwa) dan jihad dan semua itu dilakukan tanpa menimbulkan ketempangan dalam segi apa pun.

Kami berharap bahagian ini penuh dengan mutiara-mutiara kebaikan dan kesholihan yang dapat dijadikan pengajaran dan ikutan untuk kita semua. "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam : 4)

Kami ingin menulis bahagian ini dengan menjadikan beberapa perkara sebagai asas perbincangan:
  1. Sumber yang diambil ialah dari Al-Quran dan hadis-hadis shohih.
  2. Buku-buku sirah yang masyhur seperti raheeq makhtum karya Saifur Rahman al-Mubarakpuri dan Sirah Nabawiyah  oleh Mustafa Siba’ie. Begitu juga kitab-kitab sirah lain yang tidak dapat kami senaraikan di sini.
  3. Fokus utama bahagian ini adalah untuk mengambil pengajaran di sebalik hadis-hadis nabi yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan seharian.

Alhamdulillah, seorang akh (saudara lelaki) telah menyatakan kesanggupan beliau untuk mengisi ruangan ini. Semoga Allah memberkati dan merahmati usaha beliau ini. Ameen.

...kenapa mereka yang mengaku pengikut Muhammad tidak mencermin sirahnya...

4.     Masa Kini

Masa kini menyaksikan umat Islam berada dalam satu keadaan yang memilukan dan menyedihkan. Kegemilangan umat Islam suatu masa dahulu hanyalah menjadi slogan-slogan yang dilaungkkan sedangkan umat terus lemah seolah-olah ada penyakit berbisa yang mematikan nadi uamt ini. Akan tetapi, bukankah Allah telah memilih kita sebagai umat terbaik?

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ’Imran : 110)

Ternyata ada masalah besar yang sedang kita hadapi. Ternyata ada penyakit yang sedang kita deritai yang menjadikan kita terus diinjak dan diperkosa. Akan tetapi bukankah kemenangan itu adalah satu kepastian daripada Allah? Persoalan yang perlu dijawab bersama ialah apakah peranan kita dalam menyelamatkan dan menyuntik ubat ke dalam nadi umat ini? Apakah ciri-ciri yang seharusnya kita miliki untuk melayakkan diri kita menjadi ’doktor’ umat ini?

Tujuan kami menulis bahagian ini ’Masa Kini’ adalah untuk menggambarkan kepada anda mengenai keadaan kita umat Islam pada masa kini. InsyaAllah akan kami mudahkan persoalan yang rumit agar anda dapat memahami tanggungjawab yang perlu kita pikul bersama dan bukan sekadar bersyahadah kemudian duduk berdiam diri.

Semoga usaha ini menjadi sumbangan kami untuk memperbaiki keadaan umat Islam.

...bukankah kita satu anggota?..

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin